Kamis, 19 November 2015

ASL USUL DESA REJOSARI
Kecamatan Dawe merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Kudus yang terletak dibagian Utara, dan masuk dalam wilayah lereng gunung Muria, dengan jarak ± 9 km dari ibu kota Kabupaten Kudus.

Wilayah Kecamatan Dawe terbagi menjadi 18 (delapan belas) Desa yang meliputi 54 (lima puluh empat) Dusun yang terbagi dalam 102 (seratus dua) RW dan 542 (lima ratus empat puluh dua) RT.

Jumlah Aparatur Pemerintahan Desa di wilayah Kecamatan Dawe adalah 365 (tiga ratus enam puluh lima) orang, yang terdiri dari Kepala Desa dan Perangkat Desa pada 18 (delapan belas) Desa adalah 251 (dua ratus lima puluh satu) orang, dan anggota Badan Permusyawaratan Desa sebanyak 114 (seratus empat belas) orang.


LETAK GEOGRAFIS DAN LUAS WILAYAH

Kecamatan Dawe mempunyai 18 Desa yaitu Desa Samirejo, Cendono, Piji, Lau, Kajar, Colo, Japan, Glagahkulon, Tergo, Dukuhwaringin, Kuwukan, Cranggang, Kandangmas, Rejosari, Margorejo, Puyoh, Soco dan Ternadi.

Kecamatan Dawe mempunyai dataran rendah maupun dataran tinggi di wilayahnya. Adapun pembagian dataran tersebut adalah sebagai berikut :

Dataran rendah yang terdiri dari :
Desa Samirejo, Cendono, Margorejo, Rejosari, Kandangmas dan Piji

Dataran tinggi yang terdiri dari :
Desa Puyoh, Soco, Ternadi, Lau, Kajar, Colo, Kuwukan, Cranggang, Glagahkulon, Tergo, Dukuhwaringin dan Japan.

Batas-batas Kecamatan Dawe
Sebelah Utara : Kabupaten Jepara
Sebelah Barat : Kecamatan Gebog
Sebelah Selatan : Kecamatan Bae dan Kecamatan Jekulo
Sebelah Timur : Kabupaten Pati dan Kecamatan Jekulo.

Jarak
Arah Utara Selatan : 13 Km
Arah Barat Timur : 6 Km
Ibu Kota Kecamatan ke Ibu Kota Kabupaten : 9 Km
Ibu Kota Kecamatan ke Ibu Kota Propinsi : 60 Km

Tinggi
Terletak pada ketinggian rata-rata 500 M diatas permukaan laut

Iklim
Beriklim tropis dan bertemperatur sedang

Luas
Kecamatan Dawe mempunyai luas 8.582,86 ha dengan rincian sebagai berikut:
Tanah sawah : 5.895,34 ha
Tanah kering : 2.687,52 ha

Jumlah Penduduk

Penduduk Kecamatan Dawe per 31 Desember 2008 sejumlah 94.784 jiwa, yang terdiri dari :
Laki-laki : 46.876 jiwa
Perempuan : 47.908 jiwa
dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 26.908 KK.

Sebagian besar penduduk Kecamatan Dawe adalah petani. Dari data monografi Kecamatan tercatat 36.000 orang atau 84 % penduduk Kecamatan Dawe bekerja di sektor pertanian.

WISATA ALAM

Gunung Muria.
Gunung Muria berada di wilayah Desa Colo Kecamatan Dawe yang berjarak ± 20 km dari Kabupaten Kudus kearah utara. Di Gunung Muria terdapat makam salah satu Wali Songo yaitu Sunan Muria, yang makamnya berada di puncak gunung ini. Terdapat pula kawasan wisata “Air Terjun Montel” yang airnya terasa jernih dan segar. Diatasnya juga terdapat makam syeh, yaitu Syech Sadzeli yang berada di Desa Japan. Dikawasan tersebut terdapat kawasan wisata “Air Tiga Rasa” yang konon kabarnya tiga sumber air tersebut rasanya berbeda-beda.

Makam Kaliyitno.
Makam Kaliyitno terletak di Desa Ternadi yang berjarak ± 13 km dari ibukota Kecamatan menuju arah utara. Bangunan ini pernah rusak terkena bencana alam tanah longsor pada tahun 2006 yang mengakibatkan sebagian bangunan rusak total. Tetapi pada saat ini bangunan tersebut sudah dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus dan swadaya masyarakat.

Makam Raden Ayu Nawangsih.
Makam raden Ayu Nawangsih ini berada di Dukuh Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe. Makam tersebut berjarak ± 15 km dari ibukota Kecamatan menuju arah timur. Konon katanya makam ini adalah makam putri Sunan Muria yang dikutuk menjadi pohon. Pada makam ini memang terdapat pohon jati yang berdiameter 6 m² dan dikelilingi oleh banyak pohon jati yang lain. Wallahu a’lam.


Latar Belakang

Sebagai salah satu dari 9 Kecamatan yang ada di Kabupaten Kudus dengan luas wilayah 8.582,86 ha yang terdiri dari 18 desa ,dengan jumlah penduduk 94.784 Jiwa terdiri dari 46.876 jiwa laki-laki dan 47.908 jiwa perempuan. Kecamatan Dawe merupakan salah satu obyek wisata Religi yaitu Wisata Religi Makam Sunan Muria di desa Colo dan Wisata Religi Makam Syech Sadzeli di desa Japan, disamping itu merupakan tujuan wisata domestik yaitu wisata Air Terjun Montel, Wisata Air Tiga Rasa Rejenu dan masih berpotensi untuk dikembangkan Agro Wisata. Jadi Kecamatan Dawe baik secara Makro maupun Mikro mempunyai potensi, keunggulan dan daya saing cukup tinggi apabila dapat dikelola dengan baik,terencana dan konsisten serta berkelanjutan.

Lingkungan Internal.

Kapabilitas organisasi adalah konsep yang dipakai untuk menunjukkan pada kondisi lingkungan internal yang terdiri atas 2 (dua) faktor strategis, yaitu kekuatan dan kelemahan. Kekuatan adalah situasi dan kemampuan internal yang bersifat positif, yang memungkinkan organisasi memiliki keuntungan strategis dalam mencapai sasarannya. Kelemahan adalah situasi dan ketidakmampuan internal yang mengakibatkan organisasi tidak dapat mencapai sasarannya. Faktor internal yang ada pada Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus adalah sususnan organisasi, kepegawaian, perlengkapan / sarana prasarana, gambaran hasil evaluasi tahun terakhir termasuk di dalamnya ketercukupan anggaran dalam pelaksanaan tupoksi.

Kondisi yang diinginkan dan Proyeksi kedepan.

Berdasarkan profil kinerja Kecamatan Dawe dapat diperkirakan kebutuhan pelayanan yang harus dipenuhi dimasa depan. Proyeksi ke depan Kecamatan Dawe adalah terwujudnya pelayanan yang berorientitas pada kepuasan masyarakat ,yang didukung oleh sarana dan prasarana teknologi., Sumber Daya Manusia yang trampil, akuntabilitas kinerja dan disiplin aparatur yang mampu mendukung kemajuan pembangunan disegala bidang.

Tugas Pokok dan Fungsi

Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dipimpin oleh seorang Camat yang mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Camat, merencanakan,mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat,penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum,penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan ,pemeliharaan sarana dan fasilitas pelayanan umum,kegiatan pemerintahan,membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan dan melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan.

VISI

Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Visi merupakan gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan oleh Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka visi Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus adalah “Terwujudnya Penyelenggaraan Pemerintahan Umum dan Pelayanan Masyarakat yang Baik (Good Governance and Good Publik Services)”

Visi tersebut merupakan gambaran dimasa yang akan datang mengenai cita-cita dan citra Kecamatan Dawe sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya untuk meningkatkan dan mewujudkan kepemerintahan yang baik (Good Governence) dan terwujudnya pelayanan masyarakat yang cepat, murah, pasti, terjangkau dan berkualitas.


MISI

Untuk mewujudkan visi tersebut yaitu Terwujudnya Penyelenggaraan Pemerintahan Umum dan Pelayanan Masyarakat yang Baik (Good Governance and Good Publik Services)”, telah dirumuskan dalam Misi Kecamatan Dawe sebagai berikut :

1. Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial Masyarakat.
2. Meningkatkan Ketentraman,Ketertiban,Perlindungan dan Kehidupan Berpolitik
Masyarakat.
3. Meningkatkan Penyelenggaraan Pemerintahan di Tingkat Kecamatan dan Desa.
4. Meningkatkan Pelayanan Administrasi Publik.


TUJUAN

1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.
2. Meningkatkan kualitas dan kerukunan sosial masyarakat.
3. Meningkatkan pengembangan partisipasi, gender, pemuda dan masyarakat.
4. Mewujudkan iklim wilayah yang kondusif dan kesiapan penanganan bencana alam.
5. Meningkatkan kehidupan berpolitik yang demokratis dan berwawasan kebangsaan.
6. Penerapan prinsip kepemerintahan yang baik dan meningkatkan disiplin serta
kesejahteraan aparatur pemerintah.
7. Mewujudkan profesionalisme serta peningkatan kualitas dan kapabilitas
aparatur.
8. Meningkatkan tertib administrasi pemerintahan.
9. Meningkatkan kualitas pelayanan administrasi publik.


SASARAN

1. Peningkatan kapabilitas dan perkembangan produk UMKM.
2. Meningkatkan pemasyarakatan olahraga.
3. Peningkatan peran gender, pemuda dan masyarakat.
4. Menurunnya gangguan ketentraman dan ketertiban.
5. Meningkatkan kesadaran kehidupan berpolitik masyarakat,
6. Penerapan prinsip kepemerintahan yang baik dan meningkatkan disiplin serta
kesejahteraan aparatur pemerintah.
7. Meningkatkan profesionalisme aparat Pemerintah Daerah.
8. Penyelamatan dokumen daerah.
9. Peningkatan standart pelayanan administrasi publik.

ANALISIS SWOT

Dengan memperhatikan hasil analisis lingkungan di atas, selanjutnya dilakukan strategi sebagai berikut :

1. Strategi Strength-Opportunities (SO), yaitu strategi yang mengoptimalkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada.
2. Strategi Strength-Threats (ST), yaitu strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi tantangan yang ada.
3. Strategi Weaknesses-Opportunities (WO), yaitu strategi yang mengurangi kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang ada.
4. Strategi weaknesses-Threats (WT), yaitu strategi yang mengurangi kelemahan untuk mengatasi tantangan yang ada.

Dari analisis SWOT yang disajikan, terlihat bahwa kekuatan internal Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dapat dioptimalkan untuk memanfaatkan peluang dan mengatasi tantangan. Kelemahan di Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus diminimalkan untuk memanfaatkan peluang dan mengatasi tantangan.
Rumusan strategi Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus yaitu :

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM sebagai aparatur pemerintah.
2. Memperbaiki / meningkatkan metode dalam kualitas dan kuantitas pelayanan publik.
3. Menambah sarana dan prasarana dengan memanfaatkan teknologi sebagai media komunikasi dan sumber data.


KEBIJAKAN.

Kebijakan merupakan arah yang diambil Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dalam menentukan bentuk konfigurasi program dan kegiatan untuk mencapai tujuan,yang diseuaikan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 beserta perubahannya.

Sesuai tupoksi, kebijakan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus bersifat eksternal, karena merupakan pelaksana kebijakan teknis bidang pemerintahan, yang artinya melaksanakan pelayanan langsung pada publik dan sasaran kebijakan aparatur pemerintahan daerah, sehingga rumusan kebijakannya adalah :

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM aparatur Pemerintah Kecamatan.
2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam pelayanan publik.
3. Meningaktkan kinerja, efektifitas, efisiensi da akuntabilitas dengan aktif
koordinasi dengan para Camat, Dinas / Instansi terkait dan aparat
pemerintahan lainnya.


Rumusan kebijakan ini merupakan derivasi / turunan / operasionalisasi dari kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus, yaitu :

1. Meningkatkan kualitas SDM aparatur pemerintahan daerah.
2. Meningkatkan kinerja, efektifitas, efisiensi dan akuntabilitas pemerintahan
daerah

Kamis, 24 September 2015

kenal tidak kalian dengan seseorang yanng bernama adi sumarmo?
Adi Sumarmo atau bisa disebut dengan Adi Sumarmo Wiryokusumo merupakan salah seorang pahlawan Nasional beliau lahir di Blora Jawa tengah 31 Maret 1921 dan meninggal di Bantul Yogyakarta, 29 Juli 1947 pada umur 26 tahun).Bersama Adisoetjipto, Abdoelrahman saleh, Husein Sastranegara, dan Iswahjoedi. Adi Sumarmo dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia
Adi Soemarmo adalah pendiri sekolah Radio Telegrafis Udara yang pertama kali di lingkungan Angkatan Udara dan merupakan embrio dari Sekolah Radio Udara di kemudian hari. Peran radio AURI sangat besar karena mampu membuka mata dunia terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Namun kariernya di Angkatan Udara begitu singkat, Adi Soemarmo mendapat perintah menjadi Radio ­Operator pesawat VT-CLA yang terbang ke India dalam upaya mengambil bantuan obat-obatan yang diberikan oleh Palang Merah Malaya dan India
Pada 29 juli 1947, pesawat udara Dakota VT-CLA pulang menuju Maguwo, Yogyakarta. Pesawat udara Dakota dikemudikan oleh Pilot Alexander Noel Constantine (Australia) dan Co-pilot Roy L.C. Hazlehurst bersama Komodor, serta Juru Teknik Bhida Ram berkebangsaan India. Dalam pesawat udara Dakota terdapat penumpang lain yaitu Beryl Constantine (Inggris) istri Alexander Noel, Zainul Arif, Abdul Gani Handonotjokro, serta tiga tokoh AURI, yaitu Komando muda udara Adu sutjibto, komando muda udara abdulrachman saleh, Opsir Muda Udara I Adi Soemarmo. Pesawat udara Dakota VT-CLA saat itu dalam perjalanan pulang dari Si­ngapura menuju Yogyakarta, yang sedang membawa bantuan obat-obatan, ditembak jatuh pesawat udara P-40 Kitty Hawk Belanda yang berasal dari pangkalan Kalibanteng, Semarang, yang dipiloti oleh Letnan Satu B.J. Reusink dan Sersan Mayor W.E. Erkelens.
Pesawat jatuh di dusun Ngoto, Ds. bangunharjo, Sewon Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Awak pesawat dan beberapa penumpang gugur dalam peristiwa yang menyedihkan itu, termasuk tiga orang perintis AURI, yaitu Adi Soemarmo, Adisucipto dan Abdulrachman Saleh. Satu-satunya penumpang yang selamat adalah Abdul Gani Handonotjokro. Untuk mengenang kejadian tanggal 29 Juli 1947 tersebut, sejak tahun 1955 dijadikanlah hari itu sebagai Hari Berkabung AURI. Opsir Muda Udara I Adi Soemarmo dimakamkan di pemakaman Semaki, yang kemudian berubah menjadi Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Semaki. Pada 9 November 1974, Pemerintah Indonesia menetapkan Adi Soemarmo sebagai pahlawan nasionalberdasar Keputusan Presiden No. 071/TK/1074. Namanya kemudian diabadikan Bandar Udara Panasan, Surakarta, menjadi Bandara udara Internasional Adi Sumarmo.
bandara ini dulu bernama pangkalan udara (lanut) panasan, karena terletak di kawasan panasan. kemudian namanya diubah menjadi Pangkaln Udara Adisumarmo mengikuti nama Adi Sumarmo (adik dari Agustinus Adisucipto) Bandara ini dulu bernama Pangkalan Udara (Lanud) Panasan yang dibangun pertama kali pada tahun 1940 oleh pemerintah Belanda sebagai lapangan terbang darurat.
Ketika bala tentara Jepang masuk ke Indonesia bandara tersebut sempat dihancurkan oleh Belanda namun dibangun lagi oleh pemerintah Jepang sejak pada tahun 1942 sebagai basis militer penerbangan angkatan laut (Kaigun Bokusha).
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia penyelenggaraan bandara dilaksanakan oleh “Penerbangan Surakarta” yang diresmikan pada tanggal 6 Februari 1946.
Pada tanggal 1 Mei 1946, Penerbangan Surakarta sejak berubah menjadi “Pangkalan Udara Panasan” yang hanya diperuntukkan penerbangan militer.
Pangkalan udara tersebut pertama kali digunakan secara resmi untuk penerbangan komersial pada tanggal 23 April 1974 yang dilayani oleh Garuda INdonesia dengan rute Jakarta Soekarno-Hatta-Solo & Solo-Jakarta Soekarno Hatta dengan frekuensi 3-kali seminggu.
Pada tanggal 25 Juli 1977, “Pangkalan Udara Panasan” berubah nama menjadi “Pangkalan Udara Utama Adi Sumarmo” yang mengikuti nama Adi Sumarmo (adik dari Agustinus Adisucipto).
Pada tanggal 31 Maret 1989, Bandara ini ditetapkan menjadi Bandara Internasional dengan melayani penerbangan rute Solo-Kuala Lumpur & Solo-Singapore-Changi.
Pada tanggal 1 Januari 1992, Bandara Adi Sumarmo dikelola oleh perusahaan umum angkasa pura 1 yang pada tanggal 1 Januari 1993 berubah status menjadi Persero Terbatas Angkasa Pura 1 sampai dengan sekarang.